Jaga Budaya

Rudi S Kamri: Yang Perlu Diperbaiki Justru Mindset Lelaki Agar Tak Jadikan Perempuan Obyek Seksual

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – “Saya mempunyai keyakinan kuat manakala seseorang, baik lelaki maupun perempuan, sudah mempunyai akhlak dan moral yang baik, dia pasti tahu cara berbusana yang terbaik, buat dirinya dan lingkungannya,” kata pegiat media sosial Rudi S Kamri dalam acara “Opini Rudi” Kanal Anak Bangsa (KAB) TV yang ditayangkan di YouTube, Rabu (6/10/2021), dikutip KABNews.id, Kamis (7/10/2021).

Rudi yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB) ini mengecam keras postingan akun TEMANSHALIH.COM yang mengharamkan perempuan memakai bra, terutama saat bertemu dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, karena menurut mereka bra membuat bentuk payudara terlihat jelas. “Aneh sekali masih ada muslim yang mempunyai pikiran sangat dangkal, yang menggunakan peremuan hanya sebagai obyek seksualitas semata. Ini primitif sekali,” sesalnya.

Rudi mempertanyakan, mengapa kaum lelaki hanya sibuk mengurusi perempuan seolah hanya sebagai obyek seksualitas semata? “Kenapa kita tidak beri kepercayaan perempuan untuk merdeka atau mandiri bagaimana harus berbusana? Tidak ada beda antara laki-laki dan perempuan. Kalau kita bicara keseteraan jender, apa yang dikatakan itu super primitif, memalukan. Kenapa kita tidak sibuk memperbaiki otak laki-laki sehingga mindset (pola pikir) laki-laki dalam melihat perempuan itu ada unsur respek dan setara? Pada saat seorang laki-laki memandang perempuan dengan kesetaraan dan rasa respek, saya yakin tidak akan terjadi pemikiran yang pronografis seperti itu. Bagi saya, perempuan ini adalah orang yang harus kita muliakan, kita hormati, bukan justru dijadikan obyek seksualitas,” terangnya.

Rudi S Kamri. (Foto: Dokumen pribadi)

“Seharusnya para ulama, ustaz, atau siapa pun yang menjadi panutan dalam kehidupan beragama, lebih concern mengurusi bagaimana umat Islam ini mempunyai akhlak dan moral yang baik, termasuk soal perempuan,” lanjut Rudi yang juga pengamat politik dan sosial.

Terkait pernyataan pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa tidak pernah ada fatwa MUI yang mengharamkan perempuan memakai bra, menurut Rudi, itu hal bagus, tapi masih kurang tegas. “Kurang mak jleb. Seharusnya MUI meluruskan dan mempersalahkan bahkan menegur akun itu yang memberikan narasi yang sangat sempit dan dangkal, sehingga memberi citra buruk bagi Islam itu sendiri. Saya sangat peduli supaya agama Islam yang mulia ini tidak sering diperolok-olok oleh orang karena dari kta sendiri yang membangun ujaran atau narasi yang sangat primitif dan dangkal. Saya mohon MUI menegur keras dan meluruskan mindset dari orang-orang atau kelompok-kelompok Islam yang masih berpikiran sangat primitif dan radikal,”pintanya.

Terkait unggahan soal perempuan dilarang memakai bra itu, Rudi pun memberi catatan. “Pertama, yang harus diperbaiki adalah akhlak dan moral manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Manakala seseorang, baik lelaki maupun perempuan, sudah mempunyai akhlak dan moral yang baik, dia pasti tahu cara berbusana yang terbaik, buat dirinya dan lingkungannya,” tukasnya.

Kedua, kata Rudi, janganlah perempuan dijadikan obyek seksualitas yang harus diatur berdandan begini, berucap begini, berperilaku begini, dan berpikir begini. “Perempuan punya peran yang setara dengan laki-laki. Berikan kepercayaan dan respek kepada perempuan untuk bagaimana dia berdandan dan berperilaku yang sesuai keyakinan dan akidahnya,” saran dia.

Ketiga, lanjut Rudi, yang paling mendesak, justru ia menyarankan, yang harus diperbaiki adalah mindset laki-laki dalam melihat perempuan. “Jangan hanya urusan seksual, urusan selangkangan. Primitif sekali laki-laki seperti itu. Siapa pun, berprofesi setinggi apa pun, dengan gelar berderet sehebat apa pun, dan sekaya apa pun, bagi saya, kalau cuma sex oriented (berorientasi seksual), justru mendegradasi keberadaan mereka. Marilah kita beragama dengan indah. Jangan ribet. Jangan terlalu masuk ke ruang privat orang. Beragama itu ada dua dimensi, dimensi veritkal, yakni ketakwaan kita kepada Allah SWT, dan dimensi horisontal, yakni bagaimana membangun hubungan harmonis dengan sasama manusia, baik dengan yang seagama maupun beda agama,” tandasnya.

Sebelumnya, media sosial digemparkan tulisan tentang hukum perempuan memakai bra atau BH. Dikutip dari detik.com, Selasa (5/10/2021), sebuah tulisan milik TEMANSHALIH.COM yang mengulas fatwa Arab Saudi hukum ‘Bolehkah Akhwat Taaruf Tanpa BH?’ di-retweet oleh sejumlah akun. Berikut tulisan tentang hukum memakai BH yang viral itu:

“Hukum seorang akhwat taaruf tanpa BH adalah boleh. Syaratnya, dia mengenakan tata busana yang menutupi seluruh tubuh dengan benar, kecuali bagian wajah dan telapak tangan. Akhwat yang berbusana tanpa BH tidak termasuk ke dalam hadis ‘Berpakaian tapi Telanjang’.”

“Hukum memakai BH dalam Islam, memakai BH mengakibatkan bentuk payudara menjadi tampak dan membuat para perempuan tampak lebih muda sehingga mereka menjadi sumber fitnah. Wanita muslim tidak boleh memakai BH di hadapan para lelaki yang bukan mahramnya.”

Menanggapi tulisan tersebut, Ketua Bidang Fatwa MUI KH Afifuddin Muhajir mengimbau agar perempuan selalu memakai pakaian sebagaimana mestinya. Dia juga tidak setuju dengan tulisan tersebut. “Keluar rumah tanpa pakai BH. BH baru dipakai ketika berada di tengah-tengah laki-laki yang bukan mahramnya. Janganlah,” kata Afifuddin.

“Perempuan tanpa BH kurang sempurna. Pesan untuk perempuan muslimah, pakailah busana penutup aurat,” lanjut Afifuddin.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidlowi juga membantah anggapan BH atau bra haram. Masduki justru mempertanyakan dasar fatwa memakai BH haram dan menegaskan tidak ada pelarangan pemakaian bra dalam ajaran Islam. “Persoalannya itu bukan BH, persoalannya memamerkan lekuk tubuh wanita,” kata Masduki dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (5/10/2021).

Comment here