Politik

Santri Tutup Telinga Saat Dengar Musik, Ini Respons Tokoh NU dan MUI

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – “Ada yang tahu ini santri darimana? Lebay banget, sampai menutup kupingnya. Indoktrinasi mengharamkan musik ini enggak beda jauh dengan Taliban, ISIS, Al Qaeda & Wahabi Takfiri,” tulis akun Twitter @David_Wijaya03.

Lalu apa kata tokoh Nahdatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)?

Tokoh NU, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 RI Abdurachman Wahid (Gus Dur), ikut menanggapi video viral yang menunjukkan sejumlah santri menutup telinga saat mendengar musik di tempat vaksinasi Covid-19.

Video itu salah satunya diunggah Diaz Hendropriyono, mantan Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Keterangan video itu mengatakan, para santri itu menutup telinga karena tidak ingin mendengarkan suara musik. Para santri itu diketahui berasal dari pondok pesantren tahfidz atau penghafal Al Quran.

Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid. (Foto: TribunNews)

Yenny Wahid mengatakan, tindakan para santri itu wajar. Ia pun memberi dua catatan tersendiri. “Saya senang para gurunya mengatur agar mereka divaksinasi. Dengan divaksin, mereka bukan saja melindungi dirinya tetapi juga orang-orang di sekelilingnya dari ancaman Covid 19,” tulis Yenny lewat akun Instagram @yennywahid dikutip dari Kompas TV, Selasa (14/9/2021).

Kedua, Yenny mengakui sulit bagi santri untuk menghafal Al Quran. Ia menuturkan, seorang sahabatnya yang bernama Gus Fatir, bahkan belajar menghafal Al Quran sejak umur 5 tahun. “Beliau mengatakan bahwa memang dibutuhkan suasana tenang dan hening agar lebih bisa berkonsentrasi dalam upaya menghafal Quran,” ujar Yenny.

“Jadi kalau anak-anak ini oleh gurunya diprioritaskan untuk fokus pada penghafalan Quran dan diminta untuk tidak mendengar musik, itu bukanlah indikator bahwa mereka radikal,” imbuhnya.

Ia pun meminta masyarakat menilai secara proporsional tindakan para santri itu. Yenny mengajak masyarakat untuk saling bertoleransi.

“Janganlah kita dengan gampang memberi cap seseorang itu radikal, seseorang itu kafir dll. Menyematkan label pada orang lain hanya akan membuat masyarakat terbelah,” kata Yenny.

Tokoh NU lainnya, Nadirsyah Hosen, Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash, berpendapat senada. Menurutnya, tindakan para santri itu wajar. Malah Nadir menilai sikap para santri itu adalah bentuk toleransi. Ia pun menilai, tidak tepat mengaitkan tindakan itu dengan paham Islam garis keras.

“Justru di sana terlihat toleransi ustad dan santri untuk memilih menutup telinga & menjaga diri ketimbang memaksakan paham mereka dengan cara kekerasan,” tulis Nadir lewat akun Twitter-nya @na_dirs.

Ia ikut meminta masyarakat tidak buru-buru berpikiran buruk pada tindakan para santri itu. “Bukankah esensi toleransi ada di sana? Jadi jangan buru-buru mengaitkan mereka dengan paham Islam garis keras hanya karena mereka berbeda pemahaman,” ujar Gus Nadir.

Di sisi lain, Gus Nadir membeberkan, memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama atau ahli agama Islam. Ia mengakui, ada kalangan ulama yang menyebut musik haram dan dapat menghilangkan hafalan Al Quran. “Ulama yang bilang haram juga punya dasar rujukan. Pada titik ini ya kita saling hormat saja terhadap pilihan yang berbeda,” jelas Gus Nadir.

“Bagi yang bilang haram, mendengarkan (musik) dianggap berdosa & bisa membuat hafalan Quran menjadi lupa. Bagi yang bilang boleh, mendengarkan musik dapat melalaikan untuk murajaah (mengulang hafalan),” lanjutnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan menyesalkan tindakan sejumlah publik figur yang menyindir santri menutup telinga saat musik diputar di tempat vaksinasi. Ia meminta agar semua pihak menghentikan kebiasaan mengolok-olok orang lain yang berbeda dalam hal apa pun. 

“Saya menyesalkan terjadinya olok-mengolok, dan meminta agar semua pihak, berhentilah mengolok-olok kepada sesama. Sikap olok mengolok merupakan cermin budaya yang tidak terpuji,” jelasnya dikutip dari Republika, Selasa (14/9/2021).

Menurutnya, tindakan mencela atau merendahkan orang lain karena perbedaan dari berbagai aspek adalah hal yang tidak terpuji. “Salah satu sifat tercela adalah mengolok-olok sesama manusia, baik karena faktor etnis, suku maupun karena agama,” tambahnya.. 

Amirsyah menambahkan, dalam Islam, perilaku mencela atau merendahkan merupakan hal yang dilarang. Karena bisa jadi yang dicela adalah orang yang lebih baik dari yang mencela. 

Comment here