Opini

Setengah Ramadanku Terbang

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Marbot Musala

Jakarta, KABNews.id – Ramadan tiba. Engkau pun berseru, “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183).

Namun, yang terdengar di telinga batinku ternyata suara sayup-sayup yang meninabobokkan, sehingga justru membuatku terlena. Aku pun tertidur. Aku pun terlelap. Pulas.

Ilustrasi. (Shutterstock)

Lalu, begitu terjaga, aku bertanya-tanya dalam hati, apakah seruan-Mu itu untukku atau hanya untuk orang-orang beriman? Sudahkah aku beriman? Sudahkah aku termasuk ke dalam golongan orang-orang beriman?

Ada enam rukun iman. Yakni, percaya kepada Allah, malaikat Allah, kitab-kitab Allah, rasul (utusan) Allah, hari kiamat, serta “qodho” dan “qodar”

“Qodho” berarti ketentuan Allah yang tidak dapat diubah, yang sudah ditetapkan sejak zaman “azali” (sebelum manusia dan alam semesta tercipta) di “lauh mahfuz” sana, dan “qodar” adalah ketentuan Allah yang masih bisa diubah manusia dengan doa dan ikhtiar.

Rukun iman terakhir inilah yang hingga kini belum benar-benar bisa aku pahami. Padahal, perintah untuk meyakini rukun iman keenam itu begitu jelas. Allah SWT berfirman dalam surat Al Qomar ayat (49) yang artinya, “Sungguh Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”

Allah juga berfirman dalam surat Al Ahzab ayat (36) yang artinya, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”

Aku, misalnya, sering menggerutu ketika rencana-rencanaku berjalan tak semestinya. Aku pun gundah gulana ketika keinginan-keinginanku ada yang tak kesampaian. Padahal, apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Apa yang dari Allah itulah yang terbaik bagi kita, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Sesungguhnya skenario Allah-lah yang terbaik bagi kita. Kita tinggal menjalaninya saja. Kita hanya seorang “wayang”, walaupun bisa saja kita juga seorang “dalang”. Akan tetapi, Allah-lah dalang dari segala dalang.

Kini, aku pun mulai mencoba kembali beriman. Atau setidak-tidaknya merasa beriman, sehingga termasuk yang diwajibkan Allah untuk berpuasa. Wajib artinya berpahala jika dikerjakan, dan berdosa bila ditinggalkan. Pahala ganjarannya surga. Dosa ganjarannya neraka.

Lalu, timbul pertanyaan di benakku, jika aku berpuasa, maka apa karena aku ingin masuk surga atau takut masuk neraka? Kalau itu yang terjadi, sudah benarkah puasaku? Mengapa masih jauh dari kata ikhlas, tidak berharap dapat surga atau tidak takut masuk neraka, atau apa pun, tapi semata-mata karena menjalankan perintah Allah? Bukan demi surga atau neraka, tapi demi Allah, lillahi taala?

Mengapa musabab puasaku karena ada “reward” (penghargaan) berupa surga, dan “punishment” (sanksi) berupa neraka? Apakah itu memang tujuanku berpuasa? Lalu bagaimana dengan bertakwa yang merupakan tujuan sesungguhnya dari berpuasa?

Bertakwa berarti mengerjakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah. Apakah bertakwa kepada Allah karena ada “reward and punishment”?

Apa pun itu, sebagai Muslim awam, aku tetap mencoba berpuasa. Mantapkan niat di dalam hati sejak malam hari. Esoknya di hari pertama Ramadan aku pun benar-benar berpuasa. Makan sahur dan minum secukupnya sebelum fajar tiba.

Akan tetapi di tengah hari bolong tiba-tiba aku jatuh sakit. Mula-mula masuk angin yang ditandai dengan mual-mual dan muntah-muntah. Disusul batuk-batuk. Disusul rasa ngilu di sekujur tubuh. Aku pun membatalkan puasa. Ke dokter. Minum obat. Tepar. “Bed rest”.

Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, bahkan dua minggu berlalu. Aku tanpa puasa. Lalu merasa mendingan dan mencoba kembali untuk berpuasa di hari ke-15. Dengan susah payah, di hari itu puasa sukses sampai kumandang azan maghrib.

Tibalah saatnya berbuka. Di meja terhidang teh manis panas dan martabak telur. Dengan lahapnya aku menyantap martabak telur beserta acar dan cabainya yang disajikan istri tercinta.

Keesokan harinya, aku kembali niat berpuasa. Makan sahur dan minum secukupnya. Akan tetapi sehabis makan sahur, perut rasanya sakit teramat sangat. Perih. Mulas. Diare pun melanda. Akhirnya puasaku batal lagi.

Keesokan harinya, di hari ke-17, aku mencoba berpuasa lagi, pantang menyerah. Pertanyaanya, di manakah setengah Ramadanku? Bagaimana bisa lebih dari dua minggu terlewat tanpa puasa? Terbangkah separuh Ramadanku?

“Urip Sakjeroning Mati”

Kini, Ramadanku tersisa 13 hari. Apakah puasaku akan lancar sampai kumandang takbir Idul Fitri nanti? Wallahu a’lam, hanya Allah yang tahu. Yang jelas, aku akan tetap mencoba untuk berpuasa. Semampuku. Kecuali Allah berkehendak lain. Jatuh sakit lagi, misalnya.

Padahal, kalaupun lancar, bisa jadi puasaku hanya menghasilkan lapar dan dahaga saja. Sebab, masih suka memendam amarah. Masih suka ber-ghibah. Masih suka suuzon. Termasuk suuzon (berprasangka buruk) kepada Allah.

Padahal, hakikat puasa adalah mengekang segala hawa nafsu, baik nafsu amarah, nafsu birahi, nafsu makan dan minum, maupun nafsu-nafsu lainnya. Lapar dan dahaga hanya sebagai penunjang saja. Supaya kondisi badan lemah. Kalau kondisi badan lemah, segala hawa nafsu lebih mudah dikendalikan.

Lebih dari itu, puasa hakikatnya adalah “urip sakjeroning mati lan mati sakjeroning urip” (hidup di dalam ‘mati’ dan ‘mati’ di dalam hidup). Mati di sini ditulis dalam tanda kutip, karena maknanya tidak benar-benar mati. Hanya seolah-olah mati. Mati segala hawa nafsunya, namun tetap hidup jiwa dan raganya. Hanya kehadiran Allah yang dirasakan di dalam hati. Lainnya nihil. “Suwung” (kosong). “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Al Qaaf: 16). Tuhan ada di sini, di dalam jiwa ini, kata Ebiet G Ade.

Pertanyaan berikutnya, kalau puasaku masih sebatas menahan lapar dan dahaga, belum “urip sakjeroning mati lan mati sakjeroning urip”, apalagi setengah Ramadanku telah terbang, bagaimana bisa aku berjumpa dengan “lailatul qodr”, suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan (83 tahun)? Yakni, malam diturunkannya kitab suci Al Quran atau Nuzulul Quran?

Bagaimana pula aku bisa berjumpa dengan Idul Fitri dalam kondisi “fitri” atau suci (dan indah), seperti bayi yang baru dilahirkan, atau terlahir kembali, atau reinkarnasi, ketika setengah Ramadanku telah terbang, dan puasaku pun sekadar menahan lapar dan dahaga?

Duh, Gusti. Semua ini aku serahkan kepada-Mu. Aku percaya “qodho” dan “qodar”-Mu.

You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂

Comment here