Opini

Suara Anak Muda Suara Tuhan?

Oleh: Edward Wirawan

Jakarta, KABNews.id – Demokrasi dalam konteks elektoral adalah persoalan kuantitas. Sebab, setiap suara pemilih bernilai satu. Maka tak heran, jika setiap tim pemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden memetakan ceruk suara berdasar pada basis pendukung. Kategorisasi pemetaan bisa berdasarkan wilayah, profesi hingga usia pemilih.

Ada yang menarik dalam kategori usia. Per Juli 2023, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) berjumlah sekitar 205 juta. Pemilih muda atau Generazi Z (kelahiran 1995-2010) dan Milenial (kelahiran 1980-1994) mendominasi DPT; dengan prosentase berkisar 56,4 persen atau sekitar 113 juta pemilih. Rinciannya, generasi milenial berjumlah, 66,8 dan generasi Z berjumlah 46,8 juta pemilih.

Edward Wirawan. (Foto: dok. pribadi)

Dari angka-angka itu, kita bisa dengan gamblang katakan bahwa pemilih muda akan menjadi faktor determinan dalam kontestasi pilpres mendatang. Kandidat yang menarik arus besar pemilih muda akan meretas jalan menuju Istana. Milenial dan Gen Z penentu kandidat ke Istana. Maka menarik untuk memahami preferensi dan karakteristik pemilih muda di pilpres mendatang.

Pilihan Milenial

Pemilih muda (terutama gen Z) memiliki karakteristik yang berbeda dalam cara pandangnya terhadap demokrasi dan politik. Dalam lingkungan demokrasi, pemilih muda memiliki karakteristik independen atau tidak (belum) dipengaruhi ideologi partai politik tertentu, dinamis, kritis, dan sportif (Edison, 2019).

Pemilih muda punya kecenderungan kritis pada persoalan yang relate dengannya. Dari beberapa kategori isu, yang paling menonjol bagi generasi muda adalah ketersediaan lapangan kerja dan pemerintahan yang tegas serta bebas korupsi. Memang, dari sekitar 8,5 juta pengangguran di Indonesia generasi Z dan milenial menduduki prosentase terbanyak, sekitar 60 persen.

Beberapa survei mendukung asumsi itu. Center For Strategic and International Studies (CSIS) dalam survei September 2022 merilis beberapa poin yang menjadi perhatian utama pemilih nuda dalam Pemilu 2024 mendatang. Dalam konteks isu strategis ketenagakerjaan, ada dua poin yang menonjol bagi pemilih muda, yakni kesejahteraan masyarakat 44,4 persen dan lapangan kerja 21,3 persen. Kedua poin itu berhubungan erat dengan tingkat pengangguran yang ada.

Dalam persepsi pemilih muda terkait kepemimpinan nasional ada 10 variabel yang diajukan kepada responden. Hasilnya, ada dua variabel yang menonjol yaitu pemimpin yang jujur dan antikorupsi dan pengalaman memimpin, 34,8 persen. Lalu soal karakter pemimpin; merakyat dan sederhana, 15,9 persen.

Hal ini berbeda dengan Pemilu 2019 di mana preferensi pemilih muda mengacu pada dua variabel utama; merakyat serta tegas dan berwibawa. Perubahan-perubahan ini menunjukkan karakteristik pemilih muda yang dinamis dan cenderung menjadi swing voters (belum menentukan pilihan). Sementara dalam konteks popularitas ketiga capres di kalangan pemilih muda, Prabowo menempati urutan pertama diikuti Anies dan Ganjar di urutan ketiga.

Secara spesifik, Litbang Kompas pada Agustus 2023 mengeluarkan hasil survei terbatas pada generasi Z (usia 17-25 tahun). Ganjar Pranowo menempati posisi pertama 31 persen, lalu Prabowo 28,2 persen, dan Anies 8,2 persen.

Pendekatan dan Isu Kampanye

Sekali lagi, pemilih milenial adalah ceruk suara yang sangat besar. Jika dalam konteks wilayah, Jawa sebagai episentrum ceruk suara, maka dalam konteks generasi, milenial dan generasi Z adalah ceruk suara yang menjanjikan. Menjadi catatan bahwa ceruk suara berbasis wilayah cenderung memiliki preferensi yang stabil, sementara pemilih muda cenderung berubah.

Mengingat karakteristik yang dinamis itu, pendekatan kampanye juga berubah. Pendekatan konvensional seperti pajangan spanduk dan baliho raksasa harus diimbangi dengan masifnya pergerakan di lini media sosial. Argumentasinya, pemilih muda menggunakan media sosial sebagai sumber informasi dan mengekspresikan diri.

Survey CSIS juga menyoroti perilaku pemilih muda dalam konteks sumber informasi. Sekitar 59 persen anak muda menggunakan media sosial sebagai sumber informasi utama. Dalam konteks kepemilikan akun media sosial, pemilih muda menggunakan Whatsapp 98,3, Facebook 84,8, Youtube 74,9, Instagram 74,5, Tiktok, 56,0, dan Twitter 24,8 persen.

Maka pendekatan agenda setting ala media massa konvensional juga harus merambah platform media sosial. Rangkaian narasi berupa pesan politik tim pemenangan tidak sebatas pada media massa, tetapi menjangkau media sosial. Menjangkau media sosial berarti menjangkau ceruk suara pemilih muda dalam konteks informasi.

Perlu digarisbawahi, pemilih muda punya kecenderungan untuk menjadi swing voters. Maka pergeseran isu politik dan substansi program para paslon presiden dan wakil presiden bisa menjadi basic reasoning bagi pemilih muda untuk mengubah pilihannya. Karena itu, ketelitian dan pengemasan program kandidat menjadi vital.

Dari beragam isu strategis, tampaknya isu ketenagakerjaan berupa ketersediaan lapangan kerja tampaknya dominan di kalangan pemilih muda. Ini perlu menjadi catatan penting bagi setiap kandidat jika ingin memenangkan suara di sektor pemilih milenial. Ini adalah pemilu generasi Tiktok, Instagram, dan Facebook; di mana isu lapangan kerja, pengangguran menjadi penting.

Kaderisasi Politik

Dalam kontestasi elektoral, demokrasi kita kerap harus berhadapan dengan pelbagai kerentanan. Ada polarisasi sosial karena beda pilihan. Itu kita saksikan dalam Pemilu 2019 atau Pilkada DKI 2016 silam. Politik kekuasaan memang seringkali hadir dalam bentuk ketegangan dan tensi persaingan. Michael Foucault (1926-1984) menyebut kekuasaan tidak stabil. Karenanya, kekuasaan itu diraih dan dipertahankan juga dengan menghalalkan segala cara.

Tetapi Foucault menolak konsep negatif kekuasaan. Ia justru melihat kekuasaan positif dan produktif. Dalam konteks politik, kita diingatkan soal dignitas (martabat) politik terletak dalam proses dan tujuannya; yakni untuk kebaikan masyarakat umum. Thomas Aquinas (1225-1274) dalam Summa Theologica menyebutnya sebagai bonum comunae. Tujuan mulia politik juga termaktub dalam UUD 1945 “kesejahteraan umum”.

Maka sembari menikmati tensi dan ketegangan-ketegangan itu, kita tidak boleh melupakan tujuan kita berpolitik. Lebih dari itu, narasi politik juga perlu memperhatikan norma dan etika politik. Proses pemilu mesti menjadi sekolah kaderisasi kedewasaan politik bagi generasi muda. Dengan begitu, proses politik hari ini akan memelihara nasib politik demokrasi kita di masa depan yang bermartabat.

Akhirnya, bisa kita katakan, Pilpres 2024 adalah pilpresnya anak muda. Suara rakyat suara Tuhan menjadi suara anak muda suara Tuhan. Mungkin ini sebuah awal yang baik untuk cita-cita Indonesia Emas pada satu abad usianya nanti.

Edward Wirawan, Direktur Kasimo Institute.
Dikutip dari detik.com, Rabu 6 Desember 2023.

Comment here