Politik

Tersindir Said Aqil? Yahya Staquf ke Israel Teruskan Ikhtiar Gus Dur

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Yahya Cholil Staquf merespons pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj yang mengaku menolak tawaran berkunjung ke Israel dua tahun lalu. Yahya menyebut kunjungannya ke Israel pada 2018 bertujuan meneruskan ikhtiar KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Soal kunjungan ke Israel itu, apakah maksudnya menyindir atau tidak, buat saya tidak relevan. Saya lakukan apa yang saya lakukan dan saya bertanggung jawab atas itu,” kata Yahya dikutip dari detikcom, Rabu (6/10/2021).

“Apakah dua tahun yang lalu PBNU memang mendapat tawaran berkunjung ke Israel? Saya tidak tahu,” imbuhnya.

Yahya mengakui pernah menghadiri forum internasional di Israel pada 2018, yakni American Jewish Committee (AJC) Global Forum. Dia mengaku diundang ke AJC Global Forum oleh jaringan internasional Gus Dur, karena memang Presiden ke-4 RI itu pernah menghadiri forum yang sama.

Yahya Cholil Staquf. (Foto: detikcom)

“Tapi saya pribadi memang diundang oleh salah satu simpul jaringan internasional Gus Dur, untuk bicara di forum yang sama seperti dilakukan Gus Dur 16 tahun sebelumnya. Saya penuhi undangan itu karena saya sudah memutuskan untuk berupaya meneruskan ikhtiar-ikhtiar Gus Dur menuju perdamaian,” papar Yahya.

“Gus Dur hadir tahun 2002, saya hadir tahun 2018,” sambung kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu.

PBNU saat ini sedang mempersiapkan muktamar ke-34 yang rencananya bakal digelar pada akhir Desember 2021 di Lampung. Ada satu agenda besar dalam Muktamar ke-34 NU, yakni pemilihan Ketua Umum PBNU. Yahya dan Said Aqil merupakan kandidat calon Ketua Umum PBNU. “Ya, saya memang salah satu calon Ketua Umum PBNU,” sebut Yahya.

Sebelumnya, Said Aqil mengungkap NU sempat ditawari untuk berkunjung ke Israel dua tahun lalu. Namun tawaran itu ditolak Said Aqil atas alasan Israel yang tidak mau mengakui Palestina.

“Masalah kemandirian bahwa kita sama-sama NU dan Presiden sama berpendapat menjaga kemandirian jangan sampai kita terpengaruh oleh kepentingan luar. Sikap Indonesia terhadap Palestina tetap jelas keberpihakan ke Palestina. Selama Israel tidak mengakui negara Palestina, maka Indonesia tidak akan mengakui negara Israel secara politik. Ibu Retno (Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi) pun seperti itu, selalu mengatakan seperti itu,” kata Said Aqil kepada wartawan seusai bertemu Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Rabu (6/10/2021).

“Dulu pendapat saya juga begitu waktu 2 tahun yang lalu, NU ditawari berkunjung ke Israel, saya tolak selama Israel belum mengakui Palestina saya tidak akan pernah… kalau sudah saling mengakui ayo,” sambung

Comment here